Thursday, 8 July 2010

Perancangan komunikasi visual air minum dalam kemasan Aquacui Sukorejo-Pandaan-Jawa Timur


Air minum dalam kemasan Aquacui merupakan produk baru yang tidak
mempunyai cukup dana untuk melakukan promosi secara besar-besaran.
Persaingan pasar air minum dalam kemasan sangat ketat. Perusahaan air minum
dalam kemasan Aquacui berusaha agar produknya diterima di masyarakat
sehingga dapat memudahkan proses penjualan. Keadaan ini semakin memaksa
perusahaan untuk mengambil tindakan lanjut yaitu dengan membuat perancangan
komunikasi visual. Perancangan yang akan dibuat meliputi strategi pemasaran,
strategi media, dan strategi kreatif yang disesuaikan dengan analisa pasar.

Ayo Rusak Botol Bekas Minuman Mineral

VIVAnews - Indonesia menjadi surga bagi pemalsuan. Minimnya pengawasan dan tindakan tegas pemerintah membuat konsumen banyak dirugikan. Salah satunya air mineral palsu atau air mineral isi ulang.

Maraknya peredaran air mineral palsu banyak ditemui saat kita membeli air tersebut di warung kaki lima atau pedagang pinggir jalan. Air mineral isi ulang itu dijual setelah memanfaatkan botol minuman bekas yang telah dibuang.

SUMUR DAN PDAM, SUMBER AIR ISI ULANG


Beda dengan air minum dalam kemasan yang sumber airnya diambil langsung dari mata air di pegunungan, depot galon air isi ulang yang tersebar di Kendari ternyata menggunakan sumur bor, sumur gali dan PDAM sebagai sumber air baku utamanya. Dari sisi kesehatan, hal itu jelas mengkhawatirkan.
Pasalnya untuk dapat dikonsumsi, air baku seharusnya dipanaskan hingga suhu tertentu. Gunanya, untuk mematikan kuman dan bakteri penyebab penyakit yang kemungkinan terkandung di dalamnya. Sedangkan depot isi ulang, ternyata tidak dipanaskan melainkan hanya dilakukan proses sterilisasi. Proses tersebut diantaranya menggunakan desinfektan berupa ozonisasi dan radiasi ultra violet.

Tuesday, 29 June 2010

Reformasi strategi pemasaran perusahaan air minum dalam kemasan merek Aquaria


Industri AMDK di Indonesia mengalami perkembangan yang pesat.
PT. Indotirta Jaya Abadi sebagai produsen AMDK merek Aguaria memerlukan
strategi pemasaran yang tepat tidak hanya untuk menghadapi persaingan tetapi
juga untuk kepentingan perusahaan secara jangka panjang.
Evaluasi pemasaran diperlukan untuk mengenali dan meningkatkan
potensi yang ada baik dari internal maupun eksternal perusahaan. Dengan
menggunakan analisis Porter?s Five Forces Models, analisis SWOT, analisis
EFE,IFE, dan IE serta analisis QSPM untuk membuat suatu evaluasi strategi yang
berguna bagi perusahaan di dalam menyusun kembali reformulasi strategi
pemasaran selanjutnya.
Author
• (31499417) MARIANNE YOUWHANNES
• (31400069) INGE DWIWAHYUNI
Contributor
• (00-044) Cynthia Yulita Wardayanti
• (98-038) Filicia Chandra
Publisher
Universitas Kristen Petra
Year : 2005

Friday, 25 June 2010

Apakah benar produk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) dibebaskan dari PPN?

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 118/PJ/2009

TENTANG
    
PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS PENYERAHAN AIR BERSIH

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,


Dalam rangka memberikan kejelasan tentang Pajak Pertambahan Nilai atas penyerahan Air Bersih, dengan ini dijelaskan dan ditegaskan hal-hal sebagai berikut:

  1. Dalam Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai antara lain diatur:
  1. Pasal 4 huruf a, bahwa Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha.
  2. Pasal 16B, bahwa dengan Peraturan Pemerintah dapat ditetapkan bahwa pajak terutang tidak dipungut sebagian atau seluruhnya, baik untuk sementara waktu atau selamanya, atau dibebaskan dari pengenaan pajak antara lain untuk penyerahan Barang Kena Pajak tertentu atau Penyerahan Jasa Kena Pajak tertentu.
Dalam penjelasan pasal ini selanjutnya dijelaskan bahwa kemudahan perpajakan yang diatur dalam pasal ini diberikan terbatas salah satunya untuk mendorong pembangunan nasional dengan membantu tersedianya barang-barang yang bersifat strategis setelah berkonsultasi dengan DPR.
  1. Sesuai Pasal 4A Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai juncto Peraturan Pemerintah Nomor 144 Tahun 2000 tentang Jenis dan Jasa Yang Tidak Dikenakan Pajak Pertambahan Nilai, air bersih tidak termasuk barang yang dikecualikan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai, sehingga Air Bersih adalah Barang Kena Pajak.

Thursday, 24 June 2010

HARGA AIR MINUM DALAM KEMASAN NAIK


The Drinking Water Book: How to Eliminate Harmful Toxins from Your WaterHarga air minum dalam berbagai kemasan di Kota Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah (Kalteng), mulai naik pasca Lebaran lalu.

Kuala Kapuas, Kalteng, 29/9 (Antara/FINROLL Lifestyle) - Harga air minum dalam berbagai kemasan di Kota Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah (Kalteng), mulai naik pasca Lebaran lalu.

Keterangan yang diperoleh ANTARA di Kuala Kapuas, Selasa, menyebutkan, naiknya harga air dalam kemasan yang dijual di berbagai toko dan warung tersebut terjadi untuk merk Prof saja, yang banyak digunakan oleh warga untuk air minum.

Kenaikan harga yang paling mencolok terjadi pada air kemasan dalam galon isi 19 liter yang sebelumnya dijual dengan harga Rp 12.000 per galon menjadi Rp 16.000 per galon.

Kemudian harga air minum dalam kemasan gelas isi 220 mililiter (ml) dari harga Rp 15.000 per dus menjadi Rp 16.000 per dus.

Thursday, 10 June 2010

Bisnis AMDK: Masih Tumbuh, Masih Basah


Bisnis AMDK bakal jenuh ketika volume produksi nasional mencapai 20 miliar liter. Padahal, saat ini volume produksinya baru 12,5 miliar liter. Jadi, peluang bisnisnya masih terbuka lebar. 


Sekitar 65% tubuh manusia terdiri dari air. Ini setara dengan kurang lebih 47 liter air pada setiap orang dewasa. Setiap hari, 2,5 liter dari volume air tersebut harus diganti dengan air yang baru. Dari volume air yang harus diganti, sekitar 1,5 liter berasal dari air minum.
Sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk, kebutuhan akan air minum pun terus meningkat. Untuk masyarakat perkotaan, hampir pasti sumber-sumber mata air yang ada tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan mereka akan air minum. Selain karena volumenya terbatas, sumber-sumber mata air yang ada di perkotaan rata-rata sudah tercemar limbah atau bahan lainnya, sehingga tidak layak konsumsi.
Setiap masalah selalu meninggalkan peluang. Begitu pula dengan masalah ketersediaan air bersih yang layak konsumsi, yang dilihat Hendro Baroeno, wakil ketua umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin), sebagai peluang. Kondisi itu membuat bisnis Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) masih menggiurkan bagi investor. Apalagi bisnis AMDK tak termasuk industri padat modal. “Jadi, banyak pebisnis yang bisa memulainya. Ada pemain besar dan ada pemain kecil,” ujarnya.
Menurut Hendro, bisnis AMDK relatif tahan banting dan terus menyisakan ruang untuk tumbuh. “Berkaca pada krisis ekonomi 1998, produksi makanan dan minuman terkena imbas paling akhir. Untuk krisis tahun ini pun, sampai kuartal I-2009, berdasarkan laporan dari anggota asosiasi, kondisi bisnisnya masih cukup baik dan mengalami stagnan. Kalau dibandingkan dengan kuartal IV-2008, selama kuartal I-2009 masih ada kenaikan konsumsi 2%‒3%,” tambah Hendro.

Itu pada skala nasional. Pada tingkat korporasi, hal itu juga tercermin dari kinerja pemain utama di bisnis ini, yakni PT Aqua Golden Mississippi Tbk. Selama 2008, meski sejak memasuki triwulan IV perekonomian Indonesia mulai diguncang oleh krisis yang berpusat di Amerika Serikat, penjualan Aqua naik terus. Pada 2008 penjualan Aqua mencapai Rp2,33 triliun, atau naik 19% dibanding tahun lalu.Jadi, bisnis AMDK bakal terus “basah”. Apalagi, papar direktur eksekutif Aspadin, Basoeki, tingkat konsumsi AMDK Indonesia juga relatif masih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, apalagi dengan negara maju. “Bandingkan dengan Thailand, di sana tingkat konsumsi AMDK-nya sudah mencapai 80 liter per kapita per tahun, sementara kita masih 45 liter per kapita per tahun,” ungkapnya. Sementara itu, di negara-negara maju seperti Perancis atau Italia, tingkat konsumsi AMDK per 2005 saja sudah mencapai 140 dan 165 liter per kapita per tahun.
Menurut Willy Sidharta, mantan direktur utama PT Aqua Golden Mississippi Tbk., peluang bisnis AMDK di Indonesia memang masih sangat terbuka. ”Titik jenuh bisnis AMDK diperkirakan baru akan tercapai ketika volume konsumsi nasional mencapai 20 miliar liter per tahun atau setara dengan 80 liter per kapita per tahun,” ungkap Willy. Padahal, menurut data Departemen Perindustrian, sampai dengan 2008, volume produksi AMDK nasional baru 12,8 miliar liter—sekitar 88% dari total kapasitas produksi yang 14,5 miliar liter.
Sampai 2010, Willy memperkirakan volume permintaan AMDK nasional akan mencapai 17 miliar liter. Peningkatan volume itu dipicu oleh pertumbuhan industri yang begitu cepat, seiring dengan makin banyaknya pemain di bisnis ini. “Ini karena entry barrier atau hambatan berusaha di industri AMDK terbilang rendah dan biaya investasinya juga tidak terlalu mahal. Maka, tidak jarang sebuah perusahaan memiliki lebih dari satu merek dengan tujuan dapat meraup segmen pasar seluas mungkin. Danone, misalnya, selain mengeluarkan Aqua, juga memproduksi AMDK dengan merek Vit. Hal yang sama juga dilakukan Tang Mas dan produsen lain,” papar Willy.



Dominasi Pemain BesarMenurut Aspadin, di Indonesia ada 480 perusahaan AMDK, tetapi yang berproduksi hanya 350 pemain. Mereka ini mengusung 600-an merek AMDK. Dari jumlah itu, 165 perusahaan di antaranya merupakan anggota Aspadin.
Meski banyak pelaku bisnisnya, peta dan penguasaan pangsa pasar AMDK tidak merata. Sekitar 70% pasar AMDK ada di Jawa. Lalu, pemainnya pun ada yang besar, ada yang kecil. Namun, Basoeki menegaskan, baik pemain besar maupun pemain kecil masing-masing ada pangsa pasarnya. “Jadi, kalau ada investor AMDK mau mendirikan pabrik lagi, jangan khawatir karena pasti ada pasarnya,” tegas Basoeki.
Bagaimana peta pangsa pasar AMDK nasional? Hendro Baroeno membuat perkiraan dengan merujuk angka permintaan kemasan. Potretnya kurang lebih begini. Porsi 45%‒55% dipegang oleh merek Aqua. Lalu, pemain besar lainnya, seperti Ades, Sosro (Prim-A), Club (Surabaya dan Semarang), dan 2 Tang menguasai 30%‒35%. Selebihnya, menurut Hendro, dikuasai oleh merek-merek lokal. “Di Malang atau Garut, misalnya, ada AMDK yang punya merek sendiri,” jelas pria yang juga menjabat direktur hubungan pemerintah PT Aqua Golden Mississippi Tbk. itu.

Hendro menyebut saat ini volume produksi tertinggi masih dipegang oleh Aqua. Namun, dia mencatat, manuver bisnis paling menarik justru dilakukan produsen AMDK merek Club. “Mereka menyebar pabriknya. Ada yang di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Palembang, dan Banjarmasin. Mereka membuka pasar baru seraya mengurangi ongkos transportasi,” ulas Hendro.

Sumber : Warta Ekonomi