Tuesday, 29 June 2010

Reformasi strategi pemasaran perusahaan air minum dalam kemasan merek Aquaria


Industri AMDK di Indonesia mengalami perkembangan yang pesat.
PT. Indotirta Jaya Abadi sebagai produsen AMDK merek Aguaria memerlukan
strategi pemasaran yang tepat tidak hanya untuk menghadapi persaingan tetapi
juga untuk kepentingan perusahaan secara jangka panjang.
Evaluasi pemasaran diperlukan untuk mengenali dan meningkatkan
potensi yang ada baik dari internal maupun eksternal perusahaan. Dengan
menggunakan analisis Porter?s Five Forces Models, analisis SWOT, analisis
EFE,IFE, dan IE serta analisis QSPM untuk membuat suatu evaluasi strategi yang
berguna bagi perusahaan di dalam menyusun kembali reformulasi strategi
pemasaran selanjutnya.
Author
• (31499417) MARIANNE YOUWHANNES
• (31400069) INGE DWIWAHYUNI
Contributor
• (00-044) Cynthia Yulita Wardayanti
• (98-038) Filicia Chandra
Publisher
Universitas Kristen Petra
Year : 2005

Friday, 25 June 2010

Apakah benar produk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) dibebaskan dari PPN?

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 118/PJ/2009

TENTANG
    
PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS PENYERAHAN AIR BERSIH

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,


Dalam rangka memberikan kejelasan tentang Pajak Pertambahan Nilai atas penyerahan Air Bersih, dengan ini dijelaskan dan ditegaskan hal-hal sebagai berikut:

  1. Dalam Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai antara lain diatur:
  1. Pasal 4 huruf a, bahwa Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha.
  2. Pasal 16B, bahwa dengan Peraturan Pemerintah dapat ditetapkan bahwa pajak terutang tidak dipungut sebagian atau seluruhnya, baik untuk sementara waktu atau selamanya, atau dibebaskan dari pengenaan pajak antara lain untuk penyerahan Barang Kena Pajak tertentu atau Penyerahan Jasa Kena Pajak tertentu.
Dalam penjelasan pasal ini selanjutnya dijelaskan bahwa kemudahan perpajakan yang diatur dalam pasal ini diberikan terbatas salah satunya untuk mendorong pembangunan nasional dengan membantu tersedianya barang-barang yang bersifat strategis setelah berkonsultasi dengan DPR.
  1. Sesuai Pasal 4A Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai juncto Peraturan Pemerintah Nomor 144 Tahun 2000 tentang Jenis dan Jasa Yang Tidak Dikenakan Pajak Pertambahan Nilai, air bersih tidak termasuk barang yang dikecualikan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai, sehingga Air Bersih adalah Barang Kena Pajak.

Thursday, 24 June 2010

HARGA AIR MINUM DALAM KEMASAN NAIK


The Drinking Water Book: How to Eliminate Harmful Toxins from Your WaterHarga air minum dalam berbagai kemasan di Kota Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah (Kalteng), mulai naik pasca Lebaran lalu.

Kuala Kapuas, Kalteng, 29/9 (Antara/FINROLL Lifestyle) - Harga air minum dalam berbagai kemasan di Kota Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah (Kalteng), mulai naik pasca Lebaran lalu.

Keterangan yang diperoleh ANTARA di Kuala Kapuas, Selasa, menyebutkan, naiknya harga air dalam kemasan yang dijual di berbagai toko dan warung tersebut terjadi untuk merk Prof saja, yang banyak digunakan oleh warga untuk air minum.

Kenaikan harga yang paling mencolok terjadi pada air kemasan dalam galon isi 19 liter yang sebelumnya dijual dengan harga Rp 12.000 per galon menjadi Rp 16.000 per galon.

Kemudian harga air minum dalam kemasan gelas isi 220 mililiter (ml) dari harga Rp 15.000 per dus menjadi Rp 16.000 per dus.

Thursday, 10 June 2010

Bisnis AMDK: Masih Tumbuh, Masih Basah


Bisnis AMDK bakal jenuh ketika volume produksi nasional mencapai 20 miliar liter. Padahal, saat ini volume produksinya baru 12,5 miliar liter. Jadi, peluang bisnisnya masih terbuka lebar. 


Sekitar 65% tubuh manusia terdiri dari air. Ini setara dengan kurang lebih 47 liter air pada setiap orang dewasa. Setiap hari, 2,5 liter dari volume air tersebut harus diganti dengan air yang baru. Dari volume air yang harus diganti, sekitar 1,5 liter berasal dari air minum.
Sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk, kebutuhan akan air minum pun terus meningkat. Untuk masyarakat perkotaan, hampir pasti sumber-sumber mata air yang ada tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan mereka akan air minum. Selain karena volumenya terbatas, sumber-sumber mata air yang ada di perkotaan rata-rata sudah tercemar limbah atau bahan lainnya, sehingga tidak layak konsumsi.
Setiap masalah selalu meninggalkan peluang. Begitu pula dengan masalah ketersediaan air bersih yang layak konsumsi, yang dilihat Hendro Baroeno, wakil ketua umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin), sebagai peluang. Kondisi itu membuat bisnis Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) masih menggiurkan bagi investor. Apalagi bisnis AMDK tak termasuk industri padat modal. “Jadi, banyak pebisnis yang bisa memulainya. Ada pemain besar dan ada pemain kecil,” ujarnya.
Menurut Hendro, bisnis AMDK relatif tahan banting dan terus menyisakan ruang untuk tumbuh. “Berkaca pada krisis ekonomi 1998, produksi makanan dan minuman terkena imbas paling akhir. Untuk krisis tahun ini pun, sampai kuartal I-2009, berdasarkan laporan dari anggota asosiasi, kondisi bisnisnya masih cukup baik dan mengalami stagnan. Kalau dibandingkan dengan kuartal IV-2008, selama kuartal I-2009 masih ada kenaikan konsumsi 2%‒3%,” tambah Hendro.

Itu pada skala nasional. Pada tingkat korporasi, hal itu juga tercermin dari kinerja pemain utama di bisnis ini, yakni PT Aqua Golden Mississippi Tbk. Selama 2008, meski sejak memasuki triwulan IV perekonomian Indonesia mulai diguncang oleh krisis yang berpusat di Amerika Serikat, penjualan Aqua naik terus. Pada 2008 penjualan Aqua mencapai Rp2,33 triliun, atau naik 19% dibanding tahun lalu.Jadi, bisnis AMDK bakal terus “basah”. Apalagi, papar direktur eksekutif Aspadin, Basoeki, tingkat konsumsi AMDK Indonesia juga relatif masih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, apalagi dengan negara maju. “Bandingkan dengan Thailand, di sana tingkat konsumsi AMDK-nya sudah mencapai 80 liter per kapita per tahun, sementara kita masih 45 liter per kapita per tahun,” ungkapnya. Sementara itu, di negara-negara maju seperti Perancis atau Italia, tingkat konsumsi AMDK per 2005 saja sudah mencapai 140 dan 165 liter per kapita per tahun.
Menurut Willy Sidharta, mantan direktur utama PT Aqua Golden Mississippi Tbk., peluang bisnis AMDK di Indonesia memang masih sangat terbuka. ”Titik jenuh bisnis AMDK diperkirakan baru akan tercapai ketika volume konsumsi nasional mencapai 20 miliar liter per tahun atau setara dengan 80 liter per kapita per tahun,” ungkap Willy. Padahal, menurut data Departemen Perindustrian, sampai dengan 2008, volume produksi AMDK nasional baru 12,8 miliar liter—sekitar 88% dari total kapasitas produksi yang 14,5 miliar liter.
Sampai 2010, Willy memperkirakan volume permintaan AMDK nasional akan mencapai 17 miliar liter. Peningkatan volume itu dipicu oleh pertumbuhan industri yang begitu cepat, seiring dengan makin banyaknya pemain di bisnis ini. “Ini karena entry barrier atau hambatan berusaha di industri AMDK terbilang rendah dan biaya investasinya juga tidak terlalu mahal. Maka, tidak jarang sebuah perusahaan memiliki lebih dari satu merek dengan tujuan dapat meraup segmen pasar seluas mungkin. Danone, misalnya, selain mengeluarkan Aqua, juga memproduksi AMDK dengan merek Vit. Hal yang sama juga dilakukan Tang Mas dan produsen lain,” papar Willy.



Dominasi Pemain BesarMenurut Aspadin, di Indonesia ada 480 perusahaan AMDK, tetapi yang berproduksi hanya 350 pemain. Mereka ini mengusung 600-an merek AMDK. Dari jumlah itu, 165 perusahaan di antaranya merupakan anggota Aspadin.
Meski banyak pelaku bisnisnya, peta dan penguasaan pangsa pasar AMDK tidak merata. Sekitar 70% pasar AMDK ada di Jawa. Lalu, pemainnya pun ada yang besar, ada yang kecil. Namun, Basoeki menegaskan, baik pemain besar maupun pemain kecil masing-masing ada pangsa pasarnya. “Jadi, kalau ada investor AMDK mau mendirikan pabrik lagi, jangan khawatir karena pasti ada pasarnya,” tegas Basoeki.
Bagaimana peta pangsa pasar AMDK nasional? Hendro Baroeno membuat perkiraan dengan merujuk angka permintaan kemasan. Potretnya kurang lebih begini. Porsi 45%‒55% dipegang oleh merek Aqua. Lalu, pemain besar lainnya, seperti Ades, Sosro (Prim-A), Club (Surabaya dan Semarang), dan 2 Tang menguasai 30%‒35%. Selebihnya, menurut Hendro, dikuasai oleh merek-merek lokal. “Di Malang atau Garut, misalnya, ada AMDK yang punya merek sendiri,” jelas pria yang juga menjabat direktur hubungan pemerintah PT Aqua Golden Mississippi Tbk. itu.

Hendro menyebut saat ini volume produksi tertinggi masih dipegang oleh Aqua. Namun, dia mencatat, manuver bisnis paling menarik justru dilakukan produsen AMDK merek Club. “Mereka menyebar pabriknya. Ada yang di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Palembang, dan Banjarmasin. Mereka membuka pasar baru seraya mengurangi ongkos transportasi,” ulas Hendro.

Sumber : Warta Ekonomi

PERTUMBUHAN BAKTERI PADA AIR MINUM DALAM KEMASAN MERK ZAMMIN PADA TINGKAT KONSUMEN DENGAN PRAKTIK HIGIENE BERBEDA DI KELURAHAN TEMBALANG SEMARANG TAHUN 2004

Oleh: JUNAEDI -- E2A000039
(2004 - Skripsi)


Air minum dalam kemasan (AMDK) galon isi ulang sangat diminati hampir semua kalangan masyarakat termasuk mahasiswa. Selain harganya murah, diyakini mempunyai kualitas yang hampir sama dengan AMDK merk terkenal. Namun dari hasil beberapa penelitian ditemukan AMDK yang kualitasnya rendah. Hal tersebut diperkuat dengan ditemukan sejumlah bakteri Coliform pada sampel AMDK. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan bakteri pada AMDK galon isi ulang merk Zammin pada tingkat konsumen dengan praktik higiene yang berbeda.

Penelitian ini merupakan descriptive research dengan pendekatan rangakaian berkala dengan kontrol(time series with control). Pengambilan sampel dilakukan secarapurposive sampling. Sampel diambil dari konsumen dengan praktik higiene berbeda (baik&buruk) masing-masing satu galon yang diperiksa tiap 3 jam.Sebagai kontrol diambil dari galon yang sengaja dibeli. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif.

Hasil penelitian menunjukkan pada sampel kontrol tidak didapatkan koloni bakteri atau tidak terjadi pertumbuhan bakteri setelah proses pengisian. Pada sampel dari konsumen dengan praktik higiene buruk, jumlah Coliform tertinggi dicapai pada jam ke-12 yaitu 438 koloni/100mldan Eschericia coli 116 koloni/100ml. Pola pertumbuhan cenderung fluktuatif secara periodik. Pada sampel dari konsumen dengan praktik baik, jumlah Coliform tertinggi dicapai pada jam ke-3 yaitu 72 koloni/100ml danEschericia coli 12 koloni/100ml.

Pertumbuhan hanya berlangsung pada jam ke-3 sampai jam ke-6. Dapat disimpulkan bahwa pada konsumen dengan praktik higiene buruk jumlah Coliform dan E.coli cukup tinggi, sehingga kualitas AMDK yang dikonsumsi rendah.

Pola pertumbuhan yang terjadi bersifat fluktuatif secara periodik. Sebagai saran untuk konsumen supaya lebih memperhatikan higiene personal dalam mengkonsumsi AMDK sehingga dapat menekan pertumbuhan bakteri pada AMDK.

Kata Kunci: Bakteri,AMDK,Praktik,Higiene,Konsumen,Semarang

Wednesday, 9 June 2010

AMBRUKNYA AMDK (Air Minum Dalam Kemasan)


Setelah menganalisa 117 Pabrik Air Minum Dalam Kemasan, maka dengan ini saya simpulkan beberapa faktor sebagai penyebabnya :
* Lokasi yang salah
Dulu saya juga berpikiran, bahwa kalau mau buat pabrik air minum harus punya sumber mata air, yang airnya keluar dari bumi secara terus menerus, tidak terpengaruh oleh musim kemarau dan lain sebagainya.
Dikuatkan lagi dengan bukti yang ada, bahwa setiap pabrik yang saya tahu, adalah diproduksi di dekat pegunungan dengan mata air yang berlimpah.Ehh..ternyata bukan hanya saya yang punya pikiran begitu, tetapi juga para Investor yang berperan dalam usaha Pabrik Air Minum ini, yang berlomba lomba untuk membeli lahan, dimana ada mata air yang mengalir terus menerus. Setelah belajar dan menganalisa lebih dalam lagi, ternyata air pegunungan pun masih tercemar aneka polutan, sehingga harus diproses menggunakan berbagai macam teknologi, seperti Partikel Filtrasi, Ultra Filtrasi, Ultra Violet, Ozone dll. Dengan tariff BBM seperti sekarang ini, sudah tidak jamannya lagi membuat pabrik di atas gunung ! Ongkos nya terlalu berat, dan resiko terlalu besar ! Ternyata benar terjadi, karena sekarang banyaknya perusahaan jasa pengisian air minum, di dalam kota dengan sebutan MAKLON, dimana banyak perusahaan air minum yang menggunakan jasa ini. Karena sudah tidak memungkinkan bila harus mengisi air minum di pabriknya sendiri yang jauh dari pasarnya. Saya jadi tahu, kenapa ada yang bilang : AIR KOK LEBIH MAHAL DARI BBM ?
Yah jawabnya, wajar sekali : Karena Airnya menggunakan BBM yang BANYAK untuk mencapai si konsumen !
* INVESTOR yang AWAM
Apakah anda tahu, berapa jumlah Pabrik Air Minum di Indonesia ?
Pertanyaannya adalah apakah Beliau ini ahli di bidang air ?
Jawabnya tentu saja TIDAK, bahkan 90 % dari mereka adalah AWAM.
Hanya karena melihat pangsa pasar yang besar, dan mempunyai modal yang besar, maka BELIAU ini membuat pabrik air minum, yang mengikuti alur yang ada, yaitu :
lokasi dengan mata air, sehingga jauh dari konsumen !
Nah, dengan adanya lokasi seperti itu, dan adanya modal yang besar, sudah barang tentu lokasi tersebut di beli bukan ?
Belum lagi si Investor telah mencari informasi, bahwa kemasan mana yang paling laku dijual ?
Dan semua agent / pengecer pun menjawab : KEMASAN GELAS !
Nah, kemudian si Investor ini dengan semangatnya memesan segala sesuatunya untuk membuat kemasan gelas, bahkan banyak sekali para investor yang membuka pabrik air minum, yang hanya memproduksi dalam kemasan gelas saja !
Padahal, asal anda tahu saja , investasi untuk memproduksi kemasan gelas saja membutuhkan :
  1. mesin pengisian otomatis, paling kecil 2 line sekitar 45 juta
  2. gelas / cup 220 ml / 240 ml – minimal 1000.000 pcs @rp80
  3. plastic penutup gelas, 2 warna , minimal order 25 juta
  4. sedotan
  5. dus / karton print 2 warna, minimal 50rb pcs x @rp.1500.-
  6. belum lagi biaya perawatan mesin gelas (no.1) yang gampang rusak.
Nah, sekarang kira kira berapa margin per dus (isi 48 gelas) nya ?
Hehehe…yang pernah saya hitung adalah Rp.250.—Rp.500.- per dus, belum temasuk ongkos kirim, dll…dll….dll….
Belum lagi dengan harga bahan baku plastic yg tidak menentu, yang mengikuti kurs US Dollar…wuahhh…
Yah…sekali sekali anda bertemu dengan salah satu BELIAU ini, dan coba tanyakan saja sendiri..huehehehe….
Jadi, kalau anda pernah dengar pabrik air minum tutup, mau dijual mesinnya, ya 90% adalah mereka yang bermain di kemasan gelas ini, dan lokasinya yang jauh dari kota / konsumen !
Supplier yang “BAIK”
Namanya penjual, ya maunya jualannya banyak, omset besar, jadi margin pun besar !
Apalagi yang datang adalah KAKAP besar juga !
Nah, itu adalah wajar…
Masalahnya adalah begini : Jadi banyak supplier yang sudah pernah membangun pabrik air minum dengan merk ternama, dengan kapasitas yang besar, karena sudah ada pasarnya.
Kemudian, datanglah si INVESTOR, …yang menyampaikan maksud dan tujuannya untuk membuat pabrik AMDK.
Nah, si Supplier ini dengan semangat memberikan penawaran dan spesifikasi mesin yang pernah dijualnya dengan harga….ya pasti…sekian MILLIARR !
Setelah negosiasi , dan terjadi kesepakatan harga dan delivery, maka dibuatkanlah pabrik AMDK sesuai spesifikasi yang disetujui INVESTOR tadi.
Tanpa disadari, kapasitas produksi yang ditawarkan adalah RIBUAN galon per hari , dan ironisnya sang INVESTOR tidak tahu bagaimana memasarkan / menjual 100 galon per hari !
Itulah gambaran seorang SUPPLIER yang “BAIK”, dimana telah menyelesaikan pekerjaan sesuai jadwal yang ditentukan dan sesuai dengan pesanan.
Dan SUPPLIER sama sekali tidak ada hubungannya dan tidak mau tahu dengan pangsa pasar, jaringan pemasaran dsb, bahkan untuk tidak bisa menghitung kapan investasi nya dapat kembali. Apalagi kasih tahu bagaimana cara agar investasi dapat cepat kembali !
Nah ! inilah gambaran Supplier yang “Baik”
Kalau anda kurang puas dengan yang BAIK, carilah yang LEBIH BAIK,
Tapi kalau anda mau yang hampir sempurna, carilah yang TERBAIK !
Konsep Promosi, Pemasaran dan Penjualan
Hampir semua pemain Pabrik Air Minum menggunakan konsep yang sama, belajar dari yang sudah ada, yaitu pemain AMDK yang sudah bertahun tahun berkiprah di dunia air minum.
Berlomba-lomba berpromosi dengan memasang Billboard raksasa, Bilboard ukuran sedang yang banyak jumlahnya dan lain sebagainya, yang sudah barang tentu menghabiskan uang / investasi yang tidak sedikit dan hasil yang sedikit…
Dengan pemasaran yang konservatif juga, berbagai macam birokrasi, dan hasilnya pun masih sedikit..
Lagi-Lagi Dengan teknik Penjualan yang konservatif juga, dimana di titipkan ke agent, pengecer, supermarket, dengan sistim pembayaran konsinasi, maupun hutang pula !
Kemudian yang paling ditonjolkan sebagai selling point adalah HARGA, jadi mulailah perang harga diantara mereka dan sangat klasik sekali kalau mereka yang tidak punya konsep, sebagai FOLLOWER, yang hanya punya uang saja, hanya bisa berperang dalam dunia HARGA.
Sumber Daya Manusia
Berikutnya adalah perekrutan Sumber Daya Manusia yang sangat minim sekali pengetahuannya, yang berakibat : The Wrong Man in the Wrong place !
Tingginya Biaya Operasional
Seorang INVESTOR yang banyak duit, jarang sekali turun langsung ke lapangan dan memonitor apa yang terjadi di dalam perusahaannya, sehingga banyak sekali celah / lobang yang bocor, sehingga biaya operasional semakin hari semakin bengkak.
Management Galon
Untuk bersaing dengan pesaing yang sudah ada, maka para Investor memakai jurus yang lebih berani, berani bersaing dengan yang sudah ada, yaitu : MEMINJAMKAN GALON ! nah…kita lihat saja, hitungannya :
Bila kita meminjamkan 1 galon saja ke konsumen, berarti kita harus membeli 2 galon bukan ? (stelah air di galon habis, kita kirim galon yang ada airnya bukan)
Dan tidak sesederhana itu, karena galon yang masih di pengecer ? di agent? Di perjalanan? Galon yg sedang dicuci di pabrik? Galon yang siap kirim di gudang ?
Nah Loh ! jadi sebagai gambarannya, bila kita mempunyai omset 1000 galon per hari, minimal kita harus mempunyai 5000 galon kosong !
Dengan cara meminjamkan galon apakah sebagai jaminan si pelanggan mau beli air nya ?
Pertanyaannya : apakah Investor lain juga melakukan teknik yang sama, meminjamkan galon juga ?
Nah ….jadi KONSUMEN sama sama dipinjamkan galon, mau pilih yang mana ?
Yah… kembali lagi masalah harga, karena kualitasnya sama saja bukan ?
Tetapi kenyataan yang terjadi di lapangan lebih parah daripada itu, contohnya, salah satu pabrik AMDK yang saya jumpai : Dimana dalam hitungan kertas, jumlah galon yang dimiliki adalah 20.000 pcs, tetapi yang terdeteksi di dalam laporan stock dan peminjaman galon adalah hanya 4000 an pcs ! Jadi, pertanyaannya kemanakah 16000 galon itu ? kalau 1 pcs galon @Rp.20.000, maka jumlah nya Rp.320.000.000.- Apakah jumlah ini masih bisa dimaklumi ?
BENANG MERAH :
FujiRO tidak pernah menyarankan untuk membuat pabrik di atas gunung, maupun lokasi
yang jauh dari konsumen.
Pendek Kata : kalau bisa buat pabrik di sebelah rumah konsumen
Karena, dengan teknologi yang digunakan FujiRO, air apa saja bisa diproses dan menghasilkan air murni hingga 99% !
Dengan demikian anda hemat BBM, hemat investasi TRUK, hemat investasi lahan / tanah dengan mata air dll bukan ?
FujiRO sama sekali tidak menyarankan anda yang berencana membuat pabrik AMDK, hanya dalam kemasan gelas saja ! bahkan kalau bisa, kemasan gelas dibuat saat kemasan lain sudah jalan (botol 19 liter, 600ml, 1500ml).
Jadi kemasan gelas adalah pilihan terakhir untuk diproduksi, kalau bisa malah : TIDAK
FujiRO adalah Supplier TERBAIK, karena bukan saja sebagai penyedia mesin AMDK, tetapi juga sebagai konsultan pemasaran dan penjualan anda.
Konsep Pemasaran dan Penjualan FujiRO adalah UNIK, dimana bukan harga yang menjadi Seliing Point-nya, dan anda bisa buktikan bagaimana :
Bagaimana cara merekrut Marketing yang menolak gajian, malah memilih Menjadi MITRA FUJIRO, dengan tulus ikhlas ?
Bagaimana cara meningkatkan jumlah Marketing setiap bulannya dan terus menerus?
Para Distributor , Agent yang membeli Voucher Air Minum FujiRO dimuka?
Bagaimana menjadikan para Marketing, Agent serta Distributor setia seumur hidup?
Bagaimana cara menjual air minum 3 x daripada kapasitas produksi ?
Bagaimana Pelanggan agar tidak mau meminjam galon, tetapi dengan sukacita membelinya ?
Bagaimana Pelanggan Air Minum FujiRO untuk 1 hingga 3 bulan, bahkan setahun dimuka !
Bagaimana agar para Mitra FujiRO selalu akrab, kondusif, dan saling setia ?
Bagaimana agar FujiRO selalu didoakan para Mitra FujiRO ?
Bagaimana agar tidak ada kecurangan dalam hal administrasi, keuangan baik intern maupun ekstern perusahaan ?
Dan masih banyak “bagaimana – bagaimana” yang lain !
Sumber : fujiro.com